Tags

, , , ,

A.  PENDAHULUAN

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, penguasaan matematika harus diperkuat sejak dini dengan cara pemberian mata pelajaran matematika sejak di sekolah dasar. Hal ini juga dimaksudkan untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama (Depdiknas, 2006: 416). Secara umum, pendekatan pembelajaran yang digunakan di Indonesia masih konvensional yaitu guru menjelaskan kepada siswa dan memberikan latihan soal kepada siswa. Soal yang diberikan kepada siswa biasanya berupa soal-soal rutin dan kurang menyentuh kehidupan sehari-hari. Akibatnya, siswa kurang memahami konsep-konsep matematika dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari apalagi penilaian yang dilakukan lebih ditekankan pada hasil akhir bukan pada proses sehingga siswa merasa pembelajaran matematika itu kurang bermakna. Pembelajaran seperti ini tidak memunculkan kemampuan-kemampuan yang diharapkan tersebut secara optimal atau bahkan tidak sama sekali karena siswa menjadi tidak aktif dalam mengembangkan pengetahuan informal yang mereka miliki.

Sebenarnya, siswa sering menggunakan mata pelajaran matematika dalam kehidupan sehari-hari hanya saja mereka tidak menyadarinya, seperti pada saat mereka membandingkan ukuran dua buah benda atau lebih, berbelanja, dll. Pembelajaran akan lebih bermakna jika dimulai dengan konteks yang dekat dengan kehidupan siswa. Oleh karena itu, pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) yang memulai pembelajaran dari situasi real sebagai karakteristik pertama dari lima karakteristik yang dimiliknya sangat tepat untuk diterapkan. Dalam pendekatan PMRI, guru membimbing siswa untuk menemukan kembali matematika dimana selama proses tersebut siswa bekerjasama dalam kelompok dan menggunakan strategi untuk mengeksplor masalah yang diberikan.

Lingkaran merupakan salah satu bangun datar yang diajarkan di kelas V dan VI  Sekolah Dasar. Siswa kelas V hanya dikenalkan dengan sifat-sifat dari bangun datar lingkaran itu sendiri, seperti mengenal jari-jari lingkaran dan diameter lingkaran, sedangkan keliling dan luas lingkaran akan diajarkan di kelas VI pada semester ganjil. Biasanya guru langsung memberikan rumus luas lingkaran, mengerjakan contoh soal, dan diakhiri dengan pemberian soal-soal latihan yang mirip dengan contoh yang diberikan. Ketika siswa diberikan soal cerita, siswa kesulitan untuk menyelesaikannya. Padahal banyak permasalahan yang berkaitan dengan benda-benda berbentuk lingkaran dalam kehidupan sehari-hari, seperti membandingkan ukuran dua buah martabak manis, menaksir luas bundaran air mancur, dsb. Oleh karena itu, observer mencoba mengangkat permasalahan benda-benda tersebut dengan tujuan siswa dapat menemukan rumus dan menghitung luas lingkaran kemudian mengimplementasikannya di kelas VIB SD Negeri 98 Palembang.

Untuk mengetahui kegiatan selengkapnya, silahkan download Laporan utk buku.